Text
Matinya toekang kritik
Dalam naskah Matinya Toekang Kritik, Agus Noor menginterpretasikan sosok tukang kritik yang akan dibutuhkan sepanjang massa seperti yang dilontarkan Mochtar Pabottinggi dalam sosok Raden Mas Suhikayatno, seorang tukang kritik kondang pada zamannya. Hidup di tiap zaman. Tapi ia kini kesepian dan dilupakan orang. Satu-satunya teman hanyalah Bambang, pembantu setianya. Dari namanya saja kita tahu bahwa sosok ini berasal dari keturunan ningrat. Suhikayatno seperti hidup dalam dua wajah. Di hadapan publik, ia memainkan peran sebagai tokoh demokratis-populis. Namun, di rumahnya, apalagi di hadapan pembantu setianya, ia seorang otoriter sejati. Apa pun yang dikerjakan si pembantu pasti menuai kritik. Sebagai tukang kritik, Suhikayatno menguliti setiap apa yang terjadi pada negara saat ini. Setiap sindiran dibalut dengan humor nan renyah. Pelesetan-pelesetan spontan memberikan gambaran betapa lakon itu juga berlangsung dengan latar politik saat ini. Undang-Undang Pornografi juga tak lepas dari incarannya. Ia mengeluh lantaran setiap hal yang bernuansa tabu pasti melanggar undang-undang. Ia menyebut sebuah kata dalam bahasa Jawa bermakna kemaluan yang harus diganti dengan kata “sendok” agar tidak saru. “Wong sendok kok diurusi negara,” selorohnya.
| 2024-2467 | 808.8245 Noo m | Perpustakaan Diplomasi | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain