uku ini memungkinkan pembaca melihat Kartini bukan sekedar sebagai pahlawan nasional, melainkan sebagai intelektual wanita yang menulis secara personal: merekam pergulatan batin, kritik sosial, harapan, dan idealisme tentang kebebasan, pendidikan, dan martabat manusia. Surat-surat itu juga menunjukkan kompleksitas identitas pribumi dalam menghadapi modernitas, kolonialisme, dan tradisi adat.
My Days with Nehru by M. O. Mathai is a memoir recounting Mathai’s personal and working relationship with Jawaharlal Nehru, India’s first Prime Minister. Mathai, who served as Nehru’s private secretary, provides a revealing portrait of Nehru’s personality, work habits, political vision, and private life. Through detailed anecdotes, conversations, and reflections, Mathai describes not ju…
Prison Diaries (original: Karagarer Rojnamcha) is the second memoir of Sheikh Mujibur Rahman, based on his diary entries during his prison terms between 1966 and 1968 under the Pakistani regime. In these poignant and honest reflections, Mujib provides a vivid account of daily life in jail — including the routines, hardships, and emotional toll of confinement. He writes about his political tho…
Buku ini berisi rekaman hidup Oei Tjoe Tat. Seorang keturunan Tionghoa yang pernah menjadi Menteri. Kehidupannya tak lepas dari isu-isu tentang sejarah revolusi, jaman parlementer, dan demokrasi terpimpin, sikap presiden soekarno, kepartaian, pimpinan dulu dan perjuangannya. Sejak muda, Oei Tjoe Tat dikenal sebagai politikus. Kepribadian Oei Tjoe Tat mencerminkan kekuatan idealisme dalam mengat…
Buku ini berisi: 1. Berlayar di tengah badai ekonomi politik 2. Sikap hidup dan budaya perusahaan 3. Membina hubungan dan masa depan 4. Rekaman kesan 5. Mitra usaha dan sahabat-sahabat 6. Para profesional dan rekan kerja 7. Istri dan anak-anak saya 8. Harapan
Saya mulia menghadapi tekanan dan penghinaan yang luar biasa ketika saya mulai melakukan koreksi-koreksi terhadap pemerintahan Soeharto, yang kemudian banyak mendasari penulisan memoar ini. Sehingga buku ini saya beri judul: Memoar M. Jasin, Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto. Koreksi-koreksi tersebut menyangkut truk untuk Pemilu 1971, monopoli cengkeh, soal Tapos Ciomas, Petisi 50, …