Text
Pemberontakan Kahar Muzakkar dari tradisi ke DI/TII
Sebagai orang Bugis tulen, Kahar Muzakkar pernah bersumpah: "Saya tidak akan pernah mau lagi datang ke Makasar, kecuali kalau saya diangkat menjadi Komandan Militer Sulawesi Selatan!" Dari kacamata politik, bagi sementara pihak, pemberontakan Kahar Muzakkar, merujuk suatu kenyataan bahwa hubungan pusat dan daerah sangat lemah dan tidak efektif. Apalagi, orang-orang daerah tidak menganggap sebelah mata kepada "orang-orang pusat", yang acap kali diidentifikasikan sebagai bentuk dominasi. Benarkah kenyataan itu? Barbara Sillars Harvey, mencoba mengungkapkannya secara analitis dan komprehensif, latar belakang pemberontakan di Sulawesi Selatan pada masa 1950-1965. Menurut Harvey, pemberontakan itu tidak semata-mata disebabkan oleh kerumitan masalah politis, tetapi juga menjangkau ke masalah-masalah sejarah, tradisi, dan agama. Kahar Muzakkar, dalam kaitan ini, hanya merupakan salah satu "produk" dari kerumitan itu.
| PMKAA01522 | 959.8 HAR P | Museum KAA (Indonesia) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain