Text
Jepang dan pergerakan kebangsaan Indonesia
Mengisahkan jalinan komunikasi antara penduduk asli Indonesia dan aktivis pergerakan kebangsaan dengan Jepang di dalam naungan Pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Ekspatriat Jepang tersebut akhirnya berkembang menjadi warga kelas satu, di luar bangsa Eropa Pusat pemerintahan di Tokyo yang tidak kecil peranannya dalam mewujudkan prestise negara, secara intensif mulai mengarahkan pandangannya ke kawasan Indonesia yang subur dan kaya akan hasil tambang.
Bermula dari sini, pejabat dan militer Jepang, tokoh-tokoh informal Jepang maupun komunitas Jepang di Indonesia mulai terlibat aktif. Tak heran, jalinan emosional antara mereka dan bangsa Indonesia pun terbentuk. Kesamaan budaya Timur, perhatian wartawan dan tokoh Jepang dalam menyambut mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang, sampai pada kajian antropologis yang menghasilkan istilah "saudara tua" adalah sebagian contohnya. Benarkah hal itu mencerminkan keadaan sebenarnya? Mengapa aktivis pribumi maupun aktivis Jepang sendiri merasa dikelabui oleh pihak miiter? Bagaimana sikap was-was pemerintah Hindia-Belanda diekspresikan? Apa pula pandangan tokoh utama pergerakan seperti Husni Thamrin, Soetomo, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Douwes Dekker terhadap Jepang.
| 2024-3600 | 959.8 Got j | Perpustakaan Diplomasi | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain